This is default featured slide 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Senin, 12 Desember 2016
Sabtu, 07 Juni 2014
“Ada 4 Ribu Orang Masuk Islam setiap Tahun di Amerika”
10.55
No comments
“Ada 4 Ribu Orang Masuk Islam setiap Tahun di Amerika”
LEBIH 16 lahun lamanya Muhammad Syamsi Ali tinggal di New York, Amerika Serikat. Ayah lima anak yang pernah menjadi kolumnis tetap di rubrik Kabar Dari New York (KDNY) di hidayatullah. com ini dikenal sebagai imam dan Ketua Yayasan Masjid Al-Hikmah New York ini rupanya tak lupa dengan kampung halamannya di Indonesia.
Minggu lalu, difasilitasi Dompet Dhuafa (DD) Direktur Jamaica Muslim Center di Queens ini berbagai banyak hal tentang dakwah di Amerika pasca runtuhnya Gedung WTC 11 September 2001. Inilah bagian kisahnya dalam obrolan dengan hidayatullah. com.
Bagaimana kabar Anda?
Alhamdulillah baik
Apa kabar saudara kita kaum Muslimin di New York?
Alhamdulillah kabarnya baik-baik. Kabar gembira, saya kira semakin redah hiruk-pikuk kebencian terhadap umat Muslim. Hal ini dikarenakan umat Islam di New York sudah mengambil peran kehidupan secara luas, seperti terlibat dalam politik.
Ada sekitar 400 ribu pemilih Muslim dari total 4 juta pemilih di kota New York. Dan itu sangat menentukan siapa yang akan terpilih menjadi pemimpin nantinya.
Partisipasi dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan diseluruh lini kehidupan, itu menjadikan orang New York melihat umat Islam bukan lagi tamu, tapi sebagai bagian dari kota yang tidak boleh dipandang sebelah mata. Jadi dalam masalah ini, umat Islam sudah semakin bauj.
Berapa jumlah umat Islam di Kota New York?
Di kota New York ada sekitar 800 ribu umat Islam minimal dari 8 juta lebih total penduduk atau sekitar 10% dari keseluruhan masyarakat New York.
Ada sekitar 120 ribu siswa Muslim yang bersekolah di sekolah umum, diperkirakan sekitar 10-13% dari total murid. Oleh karena itu kami sedang memperjuangkan agar hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha bisa menjadi hari libur. Alhamudulillah Wali Kota yang baru terpilih telah menjanjikan akan menjadikan libur hari raya bagi seluruh kota.
Bagaimana karakter Muslim New York?
Ada tiga yang mayoritas secara demography. Pertama adalam umat Islam dari Asia Selatan. Kedua dari Timur Tengah dan terakhir dari Afrika. Selebihnya semua Islam ada di sana, datang dari Indonesia, China, Eropa, Checnya dan Hispanik.
Asli amerika juga sudah mulai banyak. sejak peristiwa 11 September yang lalu mereka banyak yang masuk Islam. bukan lagi warga pendatang atau kulit hitam, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang kulit putih dan hispanik. Dan secara karakter meraka sangat terdidik, muda-muda dan profesional.
Apa tantangan utama yang dihadapai umat Islam di sana?
Tiga tangtangan yang dihadapi umat Islam di kota New York. Pertama, menjaga momentum dakwah yang hadir setelah 11 September.
Jangan sampai kita kehilangan dan kembali seperti biasa-biasa saja. Sekarang ini Islam diekspose sedemikian rupa, jadi itu harus ditangkap sebagai peluang dakwah.
Kedua bagaimana menangani muallaf yang semakin bertambah. Ada 4 ribu orang setiap tahun masuk Islam dari kalangan orang Amerika. Semakin besar jumlah muallaf apabila tidak tertangani dengan baik, maka mereka akan kembali pada kebiasaan lamanya.
Saat ini, kami sedang melakukan pembinaan intensif kepada para muallaf yang jumlahnya sangat besar. Kami pun telah mendirikan Yayasan Pusat Pelatihan Da’i yang bertujuan menampung para muallaf belajar, kemudian nanti secara intensif kami genjot belajar islamnya, biar mereka bisa jadi Imam dan da’i.
Ini memberikan keuntungan besar, karena dengan lahirnya para imam dan da’i dari kalangan mereka sendiri Islam tidak akan dianggap sebagai tamu lagi.
Ketiga, semakin berkembang dan banyaknya pengikut Islam, semakin banyak orang yang takut. Jadi ada kelompok-kelompok tertentu yang ketakutan. Kami tidak melarikan diri dari mereka. Bukan pula semakin menekan dan menakuti-nakuti mereka, tapi kami melakukan pendekatan persuasif. Maka kami lakukan dialog antar agama dengan mereka yang bertuajuan menghilangkan intimidasi terhadap perkembangan Islam yang sedang berjalan.
Di antara ketakutan-ketakutan itu beberapa negara bagian melarang penerapan Syariah. Misalnya dengan melarang memotong hewan memakai pisau, tapi harus pakai mesin. Sebenarnya itu bukan isu, intinya tapi mereka takut akan perkembangan Islam.
Apa yang Anda lakukan untuk kasus seperti ini?
Nah untuk meredam hal-hal itu, kami melakukan dialog dengan pemimpin agama mayoritas, kami kunjungi mereka, memberikan presentasi tentang Islam hingga kami bisa dekat dengan mereka. Tujuan kami adalah meredam Islamofobia yang gencar di Amerika Serikat.
Contoh ketika terjadi penentangan terhadap pembangunan masjid Ground Zero oleh 70% masyarakat New York, bukan kami yang membela diri, tapi pemimpin kaum mayoritas di sana yang membela kami, tentu dibantu oleh politik dan media.
Apa saja bentuk Islamofobia itu?
Islamofobia yang terjadi di New York tidak berbentuk penyerangan fisik, tapi menjelek-jelekan Islam lewat coretan di kereta api, atau iklan-iklan di TV yang mengatakan Islam itu agama yang tidak beradab, agama Islam sumber keterbelakangan, dan macam-macam tuduhannya. Dan cara meradam Islamofobia adalah dengan mendapat pembelaan dari pihak mereka sendiri.
Berbeda dengan kasus islamofobia dengan di Indonesia. Di sana ada kekerasan tapi sangat kecil sekali, karena di Amerika ketika seorang melakukan kekerasan tidak akan ditanya motifnya. Sebab tindakan mengancam, mengangkat tangan atau menusuk –apalagi– membunuh itu adalah sebuah kesalahan.
Bagaimana prospek dakwah di New York?
Saya selalu optimis, bahwa ketika pengalaman dakwah pasca 11 September (runtuhnya Gedung WTC) begitu susah, yang disangka orang bahwa kemungkinan menjadi akhir dakwah Islam di sana ternyata keliru.
Yang terjadi justru sebaliknya, 11 September menjadi titik kebangkitan dakwah. Pemandangan wanita memakai hijab, polwan-polwan Muslimin mengatur traffic light sudah biasa saja di sana. Masyarakat sudah paham itu bagian dari perintah agama.
Maka saya percaya bahwa dakwah Islam di New York (khususnya) dan Amerika Serikat (umumnya) akan semakin solid.
Solidnya karena Islam sudah diakuai menjad bagian dari Amerika. Jika terjadi pelecehan terhadap Islam berarti negara Amerika juga ikut dilecehkan. Sehingga saya optimis Islam akan semakin berkembang dan solid. Dan jika Islam di New York dan Amerika semakin kuat insyaAllah akan memberi pengaruh posisi Islam di dunia. Karena bagaimana pun juga Amerika masih dianggap negara super power.
Apa strategi dakwah Anda di sana?
Pertama, salah satu stigma Islam dan Muslim di Amerika adalah selalu identik dengan Timur Tengah. Citra Timur Tengah juga dianggap jauh dari nilai demokrasi, diskriminasi terhadap kaum wanita, dan pusat konflik di dunia.
Jadi ketika dikatakan Islam Timur Tengah seolah ini agama yang penuh dengan konflik. Kedepan saya akan terus menampilkan diri, menyampaikan bahwa Islam itu bukan hanya agama Timur Tengah, tapi Islam itu agama dunia, global. Dan mayoritas umat Islam di dunia ini bukan dari Arab, tapi dari seluruh penjuru dunia.
Kedua, kemudian mengkader ulama-ulama dari warga Amerika sendiri. Hingga akhirnya akan muncul ulama dari kalangang mereka sendiri.
Ketiga, tetap menjaga perkembangan Islam itu tidak membalik menakutkan orang, tapi justru Islam harus menjadi kontributor dan bisa menjadi daya tarik. Orang Islam jadi politikus, pedagang, pendidik, ekonom, dan akademik.*
Rep: Samsul Bahri
Editor: Cholis Akbar
Supported : http://otochanel.com/harga-yamaha-r15/
JIMAT PALING AMPUH
10.24
No comments
Barang-barang BERTUAH Penolak Bala
Setiap orang menginginkan keselamatan di dunia, maupun di akhirat. Oleh karena itu, masing-masing orang mencari sebab untuk mendatangkan keselamatan dan kebahagiaan bagi dirinya. Hanya saja tak semua orang mengetahui sebab yang baik dan diizinkan oleh Allah Azza wa Jalla. Bahkan banyak diantara mereka sembarangan dan sembrono dalam mencari sebab, sehingga ada sebagian orang jahil yang mengambil sesuatu yang bukan sebab keselamatan dan kebahagiaan baginya.
Realita seperti ini banyak kita temukan di lapangan kehidupan. Lihatlah sebagian orang menggunakan “batu bertuah”, “keris sakti“, “Sabuk Bertuah”, “Permata Pelaris Dagangan“, “Rompi Penarik Hati”, “Kopiah Penolak Bala”, “Permata Pelaris Bisnis”, “Tanduk Kucing Penyebab Kekebalan“, “Tanduk Babi”, “Rotan Pembawa Rejeki”, dan lainnya. Semua barang-barang ini diyakini oleh sebagian orang jahil sebagian penyebab tertolaknya bala’ (petaka), dan penyebab datangnya kebahagiaan berupa rejeki, kesehatan, jodoh, dan lainnya. Ini adalah keyakinan jahiliah yang telah dihapus oleh Allah dengan kedatangan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam membawa Islam yang menghapus segala bentuk paganisme, dan penyembahan kepada selain Allah beserta sebab-sebabnya. (Lihat Al-Qoul As-Sadid (hal. 46))
Allah Ta’ala berfirman,
“Katakanlah: “Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah. Jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?. Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku”. Kepada-Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri“.(QS. Az-Zumar : 38).
Syaikh Ibnu Sholih Al-Utsaimin rahimahullah berkata,
“Syahid (dalil penguat) dari ayat ini bahwa berhala-berhala ini tidak mampu memberikan manfaat bagi penyembah-penyembahnya, baik dalam mendatangkan manfaat maupun menolak bala’. Berhala-berhala itu bukanlah sebab bagi hal itu. Maka dianalogikan (disamakan) dengan berhala-berhala itu segala sesuatu yang bukan merupakan sebab syar’iy, atau qodariy (yang ditetapkan berdasarkan taqdir). Jadi, menjadikan hal-hal itu sebagai sebab, dianggap sebagai bentuk kesyirikian kepada Allah“. [Lihat Al-Qoul Al-Mufid (1/168)]
Jadi, tali, bebatuan, permata, keris jika semuanya dijadikan sebagai sebab yang mendatangkan kebahagian dan penolak bala’, maka semua barang-barang itu bukanlah sebab-sebab yang dibenarkan dalam agama kita. Bahkan itu merupakan kesyirikan kepada Allah; diharamkan dalam agama kita!! Benda-benda itu tidak dapat mendatangkan kebahagiaan atau menolak bala’ menurut pandangan syari’at. Jika ditinjau berdasarkan taqdir (ketentuan) Allah, maka benda-benda itu tidaklah menjadi sebab datangnya kebahagiaan dan tertolaknya bala’.
Burhanuddin Ibrahim bin Umar Al-Biqo’iy rahimahullah berkata saat menafsirkan ayat di atas,
“Tatkala telah dimaklumi bahwa mereka (orang-orang kafir) terdiam dari pertanyaan ini, sebab mereka mengetahui adanya keharusan kontradiksi saat mereka menjawab dengan kebatilan. Diantara kebatilan agama mereka, mereka menjawab dengan kebenaran“. [Lihat Nazhm Ad-Duror fi Tanaasub Al-Ayat wa As-Suwar (7/258)]
Perhatikanlah, ketika orang-orang kafir ditanya, apakah sembahan-sembahan mereka dapat mendatangkan mudhorot (bala’), dan menghalangi rahmat dan kebaikan Allah, maka mereka mengakui bahwa sembahan-sembahan mereka tak dapat melakukan hal itu!! Ini pernyataan dan penegasan orang-orang kafir. Tragisnya di zaman ini ada sebagian orang yang mengaku “muslim”, tapi mereka mengakui bahwa ada benda atau makhluk yang mampu mendatangkan rejeki atau menolak bala’. Padahal semua itu telah dilarang dan dingkari oleh Allah.
Para pembaca yang budiman, ketika kita mengingkari orang yang meyakini bahwa ada yang mampu mendatangkan manfaat dan kebahagiaan atau menolak bala’ dari selain Allah, maka sebagian orang jahil menyangkal seraya berkata, “Kami tidak meyakini bahwa benda-benda ini dapat mendatangkan manfaat atau menolak bala’!! Kami hanya meyakini bahwa benda-benda ini hanya menjadi sebab yang mendatangkan manfaat dan menolak bala’, karena hanya Allah yang mampu melakukan hal itu”.
Ketahuilah bahwa ini hanyalah bualan mereka. Mereka hanya ingin menipu kaum awam yang tak memahami agamanya dengan baik. Untuk menjawab bualan dan syubhat (kerancuan) mereka ini, maka silakan anda dengarkan penjelasan Syaikh Ibn Nashir As-Sa’diy rahimahullah saat beliau berkata,
“Wajib bagi seorang hamba untuk mengenal tiga perkara tentang MASALAH SEBAB. Pertama, seorang hamba tidak menjadikan diantara sebab-sebab itu sebagai suatu SEBAB, kecuali yang telah nyata bahwa ia adalah sebab menurut syari’at dan taqdir (ketetapan Allah). Kedua, seorang hamba tidak bersandar kepada sebab-sebab itu, bahkan ia hanya bersandar kepada Yang Mengadakan dan Menetapkan sebab (yakni, Allah). Di samping itu, ia tetap melakukan sesuatu yang disyari’atkan diantara sebab-sebab itu, dan bersemangat terhadap sebab yang bermanfaat. Ketiga, seorang hamba mengetahui bahwa sebab-sebab itu bagaimana pun besar dan kuatnya, tapi sebab-sebab itu tergantung kepada ketentuan Allah, dan taqdir-Nya; tak akan keluar dari ketentuan-Nya“. [Lihat Al-Qoul As-Sadid Syarh Kitab At-Tauhid (hal. 43-44)]
Jadi, barangsiapa menggunakan benda-benda yang dikeramatkan baik berupa batu, atau tali, dan lainnya dengan maksud untuk menghilangkan bala’ setelah terjadinya, atau untuk menolak bala’ sebelum terjadinya, maka sungguh ia telah berbuat syirik (mempersekutukan Allah dengan makhluk). Sebab jika ia meyakini bahwa benda-benda itulah yang menolak dan menghilangkan bala’, maka ini adalah syirik akbar (besar), yaitu syirik dalam sifat rububiyyah, karena ia telah meyakini adanya sekutu bagi Allah dalam hal penciptaan dan pengaturan makhluk; juga syirik dalam uluhiyyah (peribadahan), sebab ia telah menghambakan diri kepada benda-benda itu, serta menggantungkan hatinya pada benda-benda itu karena mengharapkan manfaat dan kebaikannya.
Jika seorang hamba meyakini bahwa Allah-lah yang Memberi manfaat dan menolak bala’, tapi seseorang masih meyakni bahwa benda-benda yang dikeramatkan tersebut adalah sebab yang ia menolak bala’ dengannya, maka sungguh ia telah menjadikan sesuatu yang bukanlah sebab yang disyari’atkan dan tidak pula ditaqdirkan oleh Allah sebagai suatu sebab. Ini adalah perbuatan yang diharamkan dan bentuk kedustaan atas nama syari’at dan taqdir. Menjadikan benda-benda yang dikeramatkan sebagai suatu sebab dalam menolak bala’ atau mendatangkan rejeki dan kebahagiaan merupakan perkara yang diharamkan dalam agama kita. Oleh karenanya, Uqbah bin Amir radhiyallahu anhu berkata,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقْبَلَ إِلَيْهِ رَهْطٌ فَبَايَعَ تِسْعَةً وَأَمْسَكَ عَنْ وَاحِدٍ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ بَايَعْتَ تِسْعَةً وَتَرَكْتَ هَذَا قَالَ إِنَّ عَلَيْهِ تَمِيمَةً فَأَدْخَلَ يَدَهُ فَقَطَعَهَا فَبَايَعَهُ وَقَالَ مَنْ عَلَّقَ تَمِيمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ
“Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah didatangi oleh oleh suatu rombongan. Beliau membai’at sembilan orang, dan enggan membai’at satu orang. Mereka pun berkata, “Wahai Rasulullah, engkau telah membai’at sembilan orang, dan meninggalkan satu orang”. Beliau bersabda, “Pada dirinya ada jimat”. Kemudian beliau memasukkan tangannya dan memutuskan jimat itu. Lalu membai’atnya seraya berkata, “Barangsiapa yang menggantung jimat, maka sungguh ia telah berbuat syirik“. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (4/156), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (4/219), dan Al-Harits Ibn Abi Usamah dalam Musnad-nya.]
Menjadikan jimat sebagai sebab dalam menolak bala’ atau mendatangkan manfaat (kebahagiaan) merupakan perbuatan yang diharamkan dalam agama kita sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam hadits di atas.
Selain itu, jimat atau benda yang dikeramatkan lainnya, jika ditinjau berdasarkan taqdir (ketetapan Allah), maka ia bukanlah sebab yang menolak bala’ dan mendatangkan manfaat berupa kesembuhan dan kebahagiaan, sebab menurut tajribah (pengalaman dan eksperimen), jimat tidaklah mendatangkan kesembuhan dan menolak marabahaya; jimat atau keris yang dikeramatkan hanyalah benda mati yang tidak bisa berbicara atau bergerak, apalagi mau menolong orang. Inilah yang dinyatakan oleh Allah dalam firman-Nya,
“Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari korma. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan dihari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh yang Maha Mengetahui (Allah)”.(QS. Faathir : 13-14)
Seorang muslim tidak boleh mengharap berkah, rahmat, dan manfaat dari makhluk , sebab makhluk-makhluk itu tak memiliki daya dan upaya, tidak bisa mendengar, dan tidak pula melihat. Kalaupun bisa, maka ia tak mampu memenuhi permintaan kita.
Di zaman ini kita amat heran dengan adanya sekelompok orang-orang jahil yang mengharapkan hal-hal itu dari makhluk lemah. Kalian akan heran melihat ada diantara mereka yang mendatangi kuburan para “wali” untuk mengharap kebaikan dan berkah dari mereka. Kalian akan melihat keanehan saat mendengar ada sebagian orang yang memandikan keris, mengolesinya dengan parfum, dan menyimpannya di tempat yang mulia sebagaimana ia menempatkan Al-Qur’an. Semua ini mereka lakukan karena mengharapkan berkah, kebaikan dan manfaat dari keris itu. Ini adalah bentuk paganisme yang diharamkan oleh Allah Azza wa Jalla dan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.
Kalian akan melihat keajaiban dunia yang menakjubkan saat anda menyaksikan sebagian kaum awam mengikuti Kiyai Slamet (seekor kerbau yang dikeramatkan di Solo). Mereka bergerombol dan berdesakan mengikuti kerbau yang hina itu demi ngalap (mencari) berkah darinya. Gilanya lagi, sebagian mereka berebutan memungut tahi (kotoran) dari kerbau hina itu. Alangkah celakanya mereka!!!
Anda akan terheran ketika mendengar dan menyaksikan orang-orang bodoh menyiksa diri ketika antri menunggu giliran di depan tempat tinggal PONARI demi mengharapkan berkah dan kesembuhan dari “Batu Ajaib” milik PONARI. Demi Allah, semua ini adalah bentuk PAGANISME alias BERHALAISME yang sangat diharamkan dalam agama kita!!! Sebab tak sesuatu pun dari selain Allah yang mampu memberikan manfaat dan menolak bala’ dari makhluk lain. Semua makhluk tidak memiliki daya dan upaya di sisi Allah. Minta dan berharaplah dari Allah Azza wa Jalla; jangan mengharap dari makhluk, apalagi benda mati.
Allah Ta’ala berfirman,
“Ibrahim berkata: Maka mengapakah kalian menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kalian?” Ah (celakalah) kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah. Maka apakah kalian tidak memahami?” (QS. Al-Anbiyaa: 66-67)
Ayat ini membatalkan semua bentuk kemusyrikan; orang-orang musyrikin mengharapkan sesuatu dari selain Allah dan takut kepadanya, karena mereka meyakini bahwa makhluk-makhluk yang mereka sembah mampu mendatangkan kebaikan, dan menolak bala’. Jadi, seorang mengharap berkah dari selain Allah juga merupakan kemusyrikan yang telah dibatalkan oleh ayat di atas.
Syaikh Sholih Ibn Abdil Aziz hafizhohullah berkata usai menjelaskan makna dan jenis-jenis tabarruk (ngalap berkah) yang pernah dilakukan oleh kaum musyrikin Quraisy, “Tabarruk (ngalap berkah) yang beragam ini seluruhnya merupakan tabarruk syirik“. [Lihat At-Tamhid li Syarh Kitab At-Tauhid (hal. 127)
Terakhir kami nasihatkan kepada kaum muslimin agar membersihkan aqidah (keyakinan)nya dari meyakini adanya benda-benda yang dikeramatkan sebagai pembawa kebaikan dan penolak bala’. Jauhilah keyakinan batil ini, niscaya kalian akan selamat, insya Allah. (Buletin Jum’at At-Tauhid edisi 117 Tahun III. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas ) (dp/dais)
Sumber http:// daulahislam. com/
Supported : http://otochanel.com/harga-minerva-rx-150/
Tampilkan lebih sedikit
Ketahuilah Tentang Pedihnya Alam Barzah
10.21
No comments
Ketahuilah Tentang Pedihnya Alam Barzah
Kita percaya bahwa di alam kubur ada pertanyaan, kenikmatan dan siksaan. Banyak sekali nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menyatakan akan adanya pertanyaan, fitnah, kenikmatan dan siksaan di alam kubur. Semua nash itu telah dihimpun oleh para salaf dan para imam sepanjang masa.
Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman,
يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ
kita percaya bahwa di alam kubur ada pertanyaan, kenikmatan dan siksaan. Banyak sekali nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menyatakan akan adanya pertanyaan, fitnah, kenikmatan dan siksaan di alam kubur. Semua nash itu telah dihimpun oleh para salaf dan para imam sepanjang masa.
Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman,
يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ
Kita percaya bahwa di alam kubur ada pertanyaan, kenikmatan dan siksaan. Banyak sekali nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menyatakan akan adanya pertanyaan, fitnah, kenikmatan dan siksaan di alam kubur. Semua nash itu telah dihimpun oleh para salaf dan para imam sepanjang masa.
Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman,
يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ
“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zhalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki. “ (Ibrahim: 27).
Maksudnya adalah meneguhkan ketika menghadapi pertanyaan di alam kubur. Ini adalah nash yang menetapkan adanya pertanyaan di alam kubur sebagaimana yang telah disepakati oleh para imam kaum muslimin. Hal ini pun ditegaskan pula oleh sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab shahihnya, dari Al-Barra’ bin ‘Azib,
اَلْمُسْلِمُ إِذَا سُئِلَ فِي قَبْرِهِ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، فَذَلِكَ قَوْلُهُ: (يُثَبِتُ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوْا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ).
“Seorang muslim apabila di alam kuburnya ditanya maka ia akan bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Itulah (makna) firman-Nya, “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.”
Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman,
فَوَقَاهُ اللَّهُ سَيِّئَاتِ مَا مَكَرُوا وَحَاقَ بِآلِ فِرْعَوْنَ سُوءُ الْعَذَابِ (45) النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ
“Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh adzab yang amat buruk. Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat), “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras”. “ (Ghafir: 45-46).
Ayat ini menunjukkan adanya siksa kubur, karena ditampakkannya neraka pada pagi dan siang hari itu sebelum terjadinya Kiamat.
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Sesungguhnya seorang hamba apabila telah diletakkan di dalam kuburnya dan ditinggalkan oleh teman-temannya, ia pasti mendengar hentakan sandal mereka. Lalu didatangi oleh dua malaikat kemudian mendudukkannya, kemudian keduanya bertanya, “Apa yang pernah engkau katakan tentang laki-laki ini?” Yakni Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Orang yang beriman akan mengatakan, “Aku bersaksi bahwa ia adalah hamba Allah dan utusan-Nya.” Lalu dikatakan kepadanya, “Lihatlah kepada tempatmu di neraka, Allah telah menggantikannya untukmu dengan tempat di surga.” Lalu ia pun melihat kedua tempat itu semuanya… Adapun orang munafik dan kafir, ketika ditanyakan kepadanya, “Apa yang pernah engkau katakan tentang laki-laki ini?” maka ia akan mengatakan, “Aku tidak tahu, aku mengatakan apa yang dikatakan oleh orang-orang.” Lalu dikatakan, “Engkau tidak tahu, dan engkau tidak membaca.” lalu dipukullah dengan palu besi sekali pukulan sehingga ia berteriak sangat keras sehingga didengar oleh semua makhluk selain jin dan manusia.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, diriwayatkan pula oleh Muslim yang seperti itu).
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
لَوْ لاَ أَنْ تَدَافَنُوْا لَدَعَوْتُ اللهَ أَنْ يُسْمِعَكُمْ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ الَّذِيْ أَسْمَعُ.
Seandainya kalian tidak akan saling menguburkan, tentulah aku akan berdoa kepada Allah agar memperdengarkan kepada kalian siksa kubur yang aku dengar.” (HR. Muslim 7393, Ahmad 12026, dari sahabat Anas bin Malik radhilallahu’anhu)”
Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
“Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melewati dua kuburan beliau bersabda, “Sesungguhnya keduanya sedang disika, dan keduanya disiksa bukan karena dosa besar (dalam dugaan keduanya).” Sejenak kemudian beliau bersabda, “Tentu. Salah satunya karena tidak menjaga kesucian dari air kencingnya dan yang satu lagi karena mengadu domba (memprovokasi).” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).
Dari Abdullah bin Abbas, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada para sahabat doa ini sebagaimana mengajarkan suatu surat dari Al-Qur’an, yaitu:
اَللَّهُمَّ نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَأَعُوْذَ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ.
“Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari siksa Jahannam; aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, aku berlindung kepada-Mu dari fitnah al-masih ad-dajjal, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah hidup dan fitnah mati.” (Muttafaq ‘Alaih).
Demikian juga doa-doa beliau shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengandung permohonan perlindungan kepada Allah dari siksa kubur
“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zhalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki. “ (Ibrahim: 27).
Maksudnya adalah meneguhkan ketika menghadapi pertanyaan di alam kubur. Ini adalah nash yang menetapkan adanya pertanyaan di alam kubur sebagaimana yang telah disepakati oleh para imam kaum muslimin. Hal ini pun ditegaskan pula oleh sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab shahihnya, dari Al-Barra’ bin ‘Azib,
اَلْمُسْلِمُ إِذَا سُئِلَ فِي قَبْرِهِ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، فَذَلِكَ قَوْلُهُ: (يُثَبِتُ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوْا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ).
“Seorang muslim apabila di alam kuburnya ditanya maka ia akan bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Itulah (makna) firman-Nya, “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.”
Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman,
فَوَقَاهُ اللَّهُ سَيِّئَاتِ مَا مَكَرُوا وَحَاقَ بِآلِ فِرْعَوْنَ سُوءُ الْعَذَابِ (45) النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ
“Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh adzab yang amat buruk. Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat), “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras”. “ (Ghafir: 45-46).
Ayat ini menunjukkan adanya siksa kubur, karena ditampakkannya neraka pada pagi dan siang hari itu sebelum terjadinya Kiamat.
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Sesungguhnya seorang hamba apabila telah diletakkan di dalam kuburnya dan ditinggalkan oleh teman-temannya, ia pasti mendengar hentakan sandal mereka. Lalu didatangi oleh dua malaikat kemudian mendudukkannya, kemudian keduanya bertanya, “Apa yang pernah engkau katakan tentang laki-laki ini?” Yakni Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Orang yang beriman akan mengatakan, “Aku bersaksi bahwa ia adalah hamba Allah dan utusan-Nya.” Lalu dikatakan kepadanya, “Lihatlah kepada tempatmu di neraka, Allah telah menggantikannya untukmu dengan tempat di surga.” Lalu ia pun melihat kedua tempat itu semuanya… Adapun orang munafik dan kafir, ketika ditanyakan kepadanya, “Apa yang pernah engkau katakan tentang laki-laki ini?” maka ia akan mengatakan, “Aku tidak tahu, aku mengatakan apa yang dikatakan oleh orang-orang.” Lalu dikatakan, “Engkau tidak tahu, dan engkau tidak membaca.” lalu dipukullah dengan palu besi sekali pukulan sehingga ia berteriak sangat keras sehingga didengar oleh semua makhluk selain jin dan manusia.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, diriwayatkan pula oleh Muslim yang seperti itu).
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
لَوْ لاَ أَنْ تَدَافَنُوْا لَدَعَوْتُ اللهَ أَنْ يُسْمِعَكُمْ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ الَّذِيْ أَسْمَعُ.
Seandainya kalian tidak akan saling menguburkan, tentulah aku akan berdoa kepada Allah agar memperdengarkan kepada kalian siksa kubur yang aku dengar.” (HR. Muslim 7393, Ahmad 12026, dari sahabat Anas bin Malik radhilallahu’anhu)”
Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
“Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melewati dua kuburan beliau bersabda, “Sesungguhnya keduanya sedang disika, dan keduanya disiksa bukan karena dosa besar (dalam dugaan keduanya).” Sejenak kemudian beliau bersabda, “Tentu. Salah satunya karena tidak menjaga kesucian dari air kencingnya dan yang satu lagi karena mengadu domba (memprovokasi).” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).
Dari Abdullah bin Abbas, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada para sahabat doa ini sebagaimana mengajarkan suatu surat dari Al-Qur’an, yaitu:
اَللَّهُمَّ نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَأَعُوْذَ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ.
“Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari siksa Jahannam; aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, aku berlindung kepada-Mu dari fitnah al-masih ad-dajjal, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah hidup dan fitnah mati.” (Muttafaq ‘Alaih).
Demikian juga doa-doa beliau shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengandung permohonan perlindungan kepada Allah dari siksa kubur
“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zhalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki. “ (Ibrahim: 27).
Maksudnya adalah meneguhkan ketika menghadapi pertanyaan di alam kubur. Ini adalah nash yang menetapkan adanya pertanyaan di alam kubur sebagaimana yang telah disepakati oleh para imam kaum muslimin. Hal ini pun ditegaskan pula oleh sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab shahihnya, dari Al-Barra’ bin ‘Azib,
اَلْمُسْلِمُ إِذَا سُئِلَ فِي قَبْرِهِ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، فَذَلِكَ قَوْلُهُ: (يُثَبِتُ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوْا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ).
“Seorang muslim apabila di alam kuburnya ditanya maka ia akan bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Itulah (makna) firman-Nya, “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.”
Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman,
فَوَقَاهُ اللَّهُ سَيِّئَاتِ مَا مَكَرُوا وَحَاقَ بِآلِ فِرْعَوْنَ سُوءُ الْعَذَابِ (45) النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ
“Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh adzab yang amat buruk. Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat), “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras”. “ (Ghafir: 45-46).
Ayat ini menunjukkan adanya siksa kubur, karena ditampakkannya neraka pada pagi dan siang hari itu sebelum terjadinya Kiamat.
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Sesungguhnya seorang hamba apabila telah diletakkan di dalam kuburnya dan ditinggalkan oleh teman-temannya, ia pasti mendengar hentakan sandal mereka. Lalu didatangi oleh dua malaikat kemudian mendudukkannya, kemudian keduanya bertanya, “Apa yang pernah engkau katakan tentang laki-laki ini?” Yakni Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Orang yang beriman akan mengatakan, “Aku bersaksi bahwa ia adalah hamba Allah dan utusan-Nya.” Lalu dikatakan kepadanya, “Lihatlah kepada tempatmu di neraka, Allah telah menggantikannya untukmu dengan tempat di surga.” Lalu ia pun melihat kedua tempat itu semuanya… Adapun orang munafik dan kafir, ketika ditanyakan kepadanya, “Apa yang pernah engkau katakan tentang laki-laki ini?” maka ia akan mengatakan, “Aku tidak tahu, aku mengatakan apa yang dikatakan oleh orang-orang.” Lalu dikatakan, “Engkau tidak tahu, dan engkau tidak membaca.” lalu dipukullah dengan palu besi sekali pukulan sehingga ia berteriak sangat keras sehingga didengar oleh semua makhluk selain jin dan manusia.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, diriwayatkan pula oleh Muslim yang seperti itu).
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
لَوْ لاَ أَنْ تَدَافَنُوْا لَدَعَوْتُ اللهَ أَنْ يُسْمِعَكُمْ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ الَّذِيْ أَسْمَعُ.
Seandainya kalian tidak akan saling menguburkan, tentulah aku akan berdoa kepada Allah agar memperdengarkan kepada kalian siksa kubur yang aku dengar.” (HR. Muslim 7393, Ahmad 12026, dari sahabat Anas bin Malik radhilallahu’anhu)”
Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
“Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melewati dua kuburan beliau bersabda, “Sesungguhnya keduanya sedang disika, dan keduanya disiksa bukan karena dosa besar (dalam dugaan keduanya).” Sejenak kemudian beliau bersabda, “Tentu. Salah satunya karena tidak menjaga kesucian dari air kencingnya dan yang satu lagi karena mengadu domba (memprovokasi).” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).
Dari Abdullah bin Abbas, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada para sahabat doa ini sebagaimana mengajarkan suatu surat dari Al-Qur’an, yaitu:
اَللَّهُمَّ نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَأَعُوْذَ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ.
“Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari siksa Jahannam; aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, aku berlindung kepada-Mu dari fitnah al-masih ad-dajjal, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah hidup dan fitnah mati.” (Muttafaq ‘Alaih).
Demikian juga doa-doa beliau shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengandung permohonan perlindungan kepada Allah dari siksa kubur
Sumber : Daulahislam .com
Supported : http://droidchanel.com/harga-mito-fantasy-2-a75/
Nelson : Hanya Islam yang Bisa Menyembuhkanku
10.18
No comments
Nelson : Hanya Islam yang Bisa Menyembuhkanku
Christopher Patrick Nelson, warga negara AS keturunan Irlandia, masuk Islam ketika ia berusia 26 tahun. Sebelumnya, lelaki yang menganut agama Kristen ini pernah mempelajari berbagai keyakinan mulai dari Jainisme, ajaran Budha, Hindu, untuk menyembuhkan “penyakit”nya.
Sampai akhirnya ia menemukan Islam dan memutuskan untuk menjadi seorang muslim. Ia mengakui Nabi Muhammad Saw sebagai model dari sebuah kehidupan spiritual yang komprehensif, dan Islam telah menyelamatkannya dari “penyakit kejiwaan” yang dideritanya serta membuatnya merasa menemukan jiwanya yang hilang.
Sejak kecil Christopher Patrick Nelson, sudah memiliki perilaku dan emosi yang labil. Pada usia 14 tahun, ia pernah dirawat di bangsal untuk pasien yang mengalami gangguan kejiwaan, karena tingkah lakunya yang tak terkontrol. Hingga usia dewasa, Nelson kerap mengalami depresi, tidak punya gairah melakukan apapun, inginnya tidur terus, dan yang terburuk merasa ingin mati saja. Beberapa kali Nelson melakukan percobaan bunuh diri, dengan mengiris pergelangan tangganya.
Pertama, ia didiagnosis menderita “paranoid-schizophrenia”, sebuah istilah dalam bidang psikiatrik ketika para ahli tidak bisa menentukan dengan pasti problem yang diderita pasiennya. Kemudian, ia dinyatakan memiliki perangai “Bipolar”, perangai ganda yang ekstrim, yang saling bertolak belakang. Sejak itu, Nelson berjuang menjalani kehidupannya yang kadang mengalami perubahan suasana hati yang ekstrim.
Orang-orang di lingkungan Nelson seringkali menyalahkan dirinya atas perilakunya yang tidak dewasa, karena tidak mengerti problem kejiwaan yang dialaminya. Kondisi ini menyulitkan Nelson dalam mendapatkan pekerjaan dan membina hubungan dengan sesamanya. Ia pernah bekerja kurang dari seminggu di sebuah restoran pizza. Nelson dipecat karena perilakunya yang kurang sopan pada pelanggan.
“Depresi itu seperti neraka. Rasa ini menyelinap dalam diri saya secara diam-diam seperti hantu. Saya ingat, saya menatap ke sebuah benda, misalnya sebuah meja tempat menyajikan kopi, tiba-tiba saya akan merasa kebingunan dan merasa hidup ini tak berarti,” tukas Nelson.
Untuk menyembuhkan diri, Nelson mengikuti pengobatan yang disebutnya pengobatan gaya barat, seperti meditasi dan terapi bagi para penderita gangguan psikiatrik, di sebuah klinik di San Jose. Tapi ia merasa, pengobatan macam itu hanya menolongnya sesaat, tidak menyembuhkannya.
Sampai akhirnya, ia menemukan Islam bagi “penyakit”nya , tepat di depan sebuah tempat perawatan gangguan kejiwaan. “Saya selalu merasa, di lubuk hati saya, bahwa penyakit saya berhubungan dengan sesuatu dalam jiwa saya–obat-obatan dan terapi–oleh sebab itu, tidak akan pernah bisa menyembuhkannya,” kata Nelson.
Dengan memeluk Islam, ia mempelajari ajaran Islam yang menurutnya mengajarkannya untuk membersihkan jiwa dari berbagai penyakit hati. “Islam memberi saya rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri,” ujarnya.
“Saya merasakan, membaca doa tertentu pada Allah sangat membantu, untuk melindungi diri saya dari gangguan setan yang bisa menjerumuskan saya. Sikap disiplin dan berdoa membantu saya untuk mengendalikan emosi dan saya yang labil …”
“Ketika rasa gelisah dan depresi itu menerpa, saya merasa dikelilingi oleh puluhan polisi, yang melempari saya dan mencaci maki saya. Saya pun berdoa, mendengarkan dan meyakini kata-kata yang saya ucapkan dalam doa saya. Seketika jiwa saya kembali tenang dan merasakan kedamaian,” sambung Nelson.
Ia mengakui, untuk ketenangan jiwa, tidak cukup hanya doa tapi juga dipengaruhi oleh apa yang ia makan dan dengan siapa seseorang berkumpul. Menurut Nelson, berkumpul dengan sesama saudara seiman di masjid, banyak membantunya untuk menenangkan jiwa.
“Mengalami gangguan kejiwaan adalah sebuah perjuangan seumur hidup. Tapi setelah masuk Islam, saya merasakan akhirnya bisa mengendalikan diri saya. Islam mengajarkan saya untuk memurnikan hati dan jiwa saya,” tandas Nelson
Sumber : Era Muslim
Supported : http://otochanel.com/harga-yamaha-r25/
Ke Masjid, Raih Apa yang Engkau Niatkan!
10.14
No comments
Ke Masjid, Raih Apa yang Engkau Niatkan!
Ke Masjid, Raih Apa yang Engkau Niatkan!
Barangsiapa datang mengunjungi rumah Allah,ia akan memperolehnya. Barangsiapa mengunjunginya karena keduanya serta untuk menuntut ilmu maka ia akan mendapatkannya sesuai dengan niatnya
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: مَنْ أَتَى الْمَسْجِدَ لِشَيْءٍ فَهُوَ حَظُّهُ-أبو داود
Artinya: “Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabada,”Barangsiapa mendatangi masjid karena suatu maka itu adalah bagiannya”. (Riwayat Abu Dawud, dihasankan oleh Al Hafidz As Suyuthi)
Dalam hal ini Al Allamah Al Munawi menyatakan bahwa barangsiapa mendatangi masjid, maka ia memperoleh sesuai dengan apa yang niatkan. Barangsiapa datang ke masjid untuk memperoleh pahala maka ia mendapatkannya, barangsiapa datang untuk mengunjungi rumah Allah maka ia akan memperolehnya serta barangsiapa mengunjunginya karena keduanya serta untuk menuntut ilmu maka ia akan mendapatkannya sesuai dengan niatnya. Hal ini termasuk dalam sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam,”…bagi setiap orang apa yang ia telah niatkan.” (Faidh Al Qadir, 6/22)
Rep: Sholah Salim
Editor: Cholis Akbar
Sumber : Hidayatullah
Ketika Kita Saling Bunuh
09.43
No comments
Ketika Kita Saling Bunuh
*) Oleh: Qosim Nursheha Dzulhadi
Hantaman demi hantaman yang menerjang Islam dan kaum
Muslimin sepertinya belum akan berhenti. Edisi fitnah terus bergulir. Skenario
pemberangusan umat ini terus dibuat. Pembusukan dari dalam terus dilakukan. Dan
itu akan estafet: sambung-menyambung menjadi satu, sampai Islam ini hancur jika
itu dapat dilakukan.
Umat ini memang akan selalu demikian. Umat ini akan terus
diburu karena dibenci. Namun umat ini terlalu kuat untuk diruntuhkan. Ia masih
terlalu gagah untuk dilawan secara face to face. Musuh ternyata masih banyak
yang pengecut. Wibawa Islam masih tinggi. Cahayanya memang tak akan pernah
redup. Tapi, musuh Islam tak kehilangan akal. Mereka memutar otak setiap detik,
menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, bahkan abad.
Itu sebabnya, di tengah kekuatan dan persatuan umat Islam
yang masih kuat dan solid, musuh Islam melakuan politik “adu domba”, devide et
impera ala imperialis klasik. Ini rupanya cukup ampun. Karena umat Islam yang
imannya lemah dan dasar Islamnya dangkal mudah saja dikibuli. Mengherankan,
tapi ini kenyataan. Ujung-ujungnya sesama Muslim berselisih:
saling-mengkafirkan padahal sama-sama bersyahadat. Mereka saling-membid’ahkan
padahal sama-sama Muslim. mereka saling-menyalahkan padahal sama-sama bodohnya.
Ujungnya: mereka saling sikut, saling sikat, bahkan saling-bunuh. Ini
sebenarnya tanda-tanda ‘kehancuran’. Ketika umat ini saling-bunuh, shaf mereka
pun menjadi lemah. Musuh mereka pun semakin berani.
Aku jadi ingin sabda Nabi Muhammad Saw. mengenai fenomena
saling-bunuh sesama Muslim saat ini. Dari Tsaubān ra. katanya Rasulullah Saw.
bersabda demikian,
“Sesungguhnya Allah ta’ala telah memperlihatkan kepadaku (peta)
bumu secara keseluruhan, sehingga aku dapat melihat bumi sebelah Timur dan
Barat. Dan sesungguhnya kekuasaan ummatku akan sampai ke seluruh tempat yang
telah diperlihatkan Allah Ta’ala kepadaku.
Kepadaku diberikan dua macam perbendaharaan, yaitu: merah
dan putih. Aku memohon kepada Tuhan untuk membantu ummatku, agar mereka tidak
dibinasakan dengan musim susah yang berkepanjangan, dan agar mereka tidak
dijajah oleh kekuasaan asing selain oleh mereka sendiri, sehingga kekuasaan
mereka menjadi hancur-luluh.
Tuhanku berfirman: ‘Ya, Muhammad! Apabila Aku telah
memutuskan satu keputusan, maka keputusan-Ku tak dapat diubah lagi. Aku
memperkenankan doamu untk ummatmu, bahwa mereka tidak akan binasa dengan musim
susah yang berkepanjangan. Dan bahwa Aku tidak akan menjajahkan kepada mereka
suatu kekuatan suatu musuh selain diri mereka sehingga kekuatan mereka
hancur-luluh, sekalipun musuh-musuh mereka bersatu mengelilingi, kecuali bila
sebagian mereka membinasakan yang sebagian dan mereka saling tawan-menawan.”
(HR. Muslim).
Hari ini sesama Muslim saling-membinasakan. Saat ini sesama
Muslim saling-tawan menawan, saling penjara-memenjara. Tidak ada lagi kata
“islāh”: rekonsiliasi dan diskusi menurut ajaran Ilahi. Akhirnya kekuatan
mereka pun hancur: meleleh dan ujungnya luluh-lantak. Para musuh mereka pun
“tepuk-tangan” tanda bahagia. Misi mereka sepertinya hampir mendekati kenyataan
ketika umat ini sampai pada taraf permusuhan yang menjadikan mereka
saling-bunuh.
Coba kita renungkan kembali sabda Nabi Saw. yang lain. Dari
‘Āmir ibn Sa’d, dari bapaknya, dia berkata:
“Pada suatu hari Rasulullah Saw. datang dari daerah
perbukitan. Ketika beliau sampai di Masjid Bani Mu’awiyah beliau masuk lalu
shalat dua raka’at. Kami pun shalat pula bersama-sama dengan beliau. Beliau
berdoa kepada Tuhan panjang sekali. Setelah berdoa lalu beliau berpaling ke
arah kami, lalu berkata,
“Aku mohon kepada Tuhanku tiga perkara. Dia memperkenankan
dua perkara dan menolak satu perkara. Aku mohon kepada Tuhanku supaya jangan
membinasakan ummatku dengan musim susah yang panjang, maka diperkenankan. Aku
memohon supaya ummatku jangan dibinasakan dengan bencana tenggelam (seperti
banjir yang melanda umat nabi Nuh, atau seperti tentara dan Raja Fir’aun yang
tenggelam di laut merah). Permohonanku itu diperkenankan-Nya juga. Aku memohon
supaya ummatku jangan dibinasakan karena pertentangan sesama mereka, permohonan
ini tidak diperkenankan.” (HR. Muslim).
Apa ia kita ditakdirkan untuk saling-bermusuhan? Apa benar
kita harus saling-bunuh? Apakah aksi saling-bunuh sudah mengalahkan toleransi?
Atau mungkin karena ruh ukhuwwah islamiyyah sudah lama dihapuskan dari relung
hati. Jika ingin yang terjadi, alangkah nestapanya umat ini. Padahal kita ini
bersaudara: kiblat kita sama. Shalat kita pun sama-sama belajar dari Rasulillah
Saw. melalui para ulama kita. Begitu juga dengan pusa, zakat, haji, dan segala
macam bentuk yang lainnya. Dan sepertinya, aksi saling-bunuh ini belum akan
selesai sebelum ummat ini benar-benar lemah tak berdaya. Wallāhu al-Musta‘ān.
*) Penulis adalah pengajar di Pondok Pesantren Ar-Raudlatul
Hasanah (Medan, Sumatera Utara) dan Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda
Indonesia (MIUMI) Sumut.













